Pendekatan Manajemen kinerja memiliki beberapa karakteristik, yang dibedakan dengan Manajemen Konvensional, antara lain :
1. Manajemen kinerja adalah proses peningkatan kinerja yang mengacu pada pendekatan penyelesaian masalah (trouble solving), tidak hanya sekedar evaluasi dan mengontrol sebuah sistem yang sedang berjalan. Manajer harus memahami pekerjaannya secara teknis dan mengerti bagaimana solusinya.
2. Manajemen kinerja adalah sebuah sarana yang menitikberatkan pada nilai dan tujuan perusahaan, dengan formula tujuan terintegrasi dengan tujuan dan standar individual dari manajer. Intinya, tujuan manajer harus menjadi bagian (berhubungan erat) dari tujuan perusahaan.
3. Manajemen kinerja tidak bisa hanya dinilai dengan penilaian kuantitatif, indikator kinerja kualitatif diberi porsi sepenuhnya. Manajemen tersebut mengakui bahwa kinerja tidak dapat dikaji secara tunggal oleh ukuran banyaknya aktifitas (kuantitas) namun kinerja lebih menitik beratkan pada kualitas sebuah aktifitas.
4. Manajemen kinerja penekanannya seimbang pada tujuan jangka panjang juga pada jangka pendek. Tidak hanya berpikir untuk masa kini saja namun juga proyek untuk jangka panjang.
5. Lebih ditekankan pada bagaimana mendapatkan hasil tersebut, dengan perhatian yang khusus pada manajemen sumber daya manusia dan kerjasama kelompok, bukan pada hasil yang akan dicapai. Walaupun hasil yang akan dicapai bagus, tetapi tidak akan timbal balik dengan pekerjaan organisasi yang berantakan, maka pekerjaan tersebut tidak akan disebut sukses.
6. Proses partisipatif, bukan prosedur atasan-bawahan. Program partisipatif yang membutuhkan timbal balik dari semuanya, bukan dari atasan turun ke bawahan saja.
7. Manajemen Kinerja berorientasi pada proses dan bukan pada sistem, dengan penekanan pada penilaian kinerja (hubungan/interaksi antara manajer dengan bawahan). Manajer menilai proses pekerjaan bawahannya, apakah mereka memiliki kinerja yang bagus atau tidak, bukan pada sistem yang sudah ada.
8. Manajemen kinerja dalam seluruh prosesnya harus dibekali dengan akses data yang memadai. Hal tersebut agar tidak membuat karyawan salah dalam melakukan pekerjaannya, selain itu pekerjaan yang dilakukan akan cepat selesai dengan lengkapnya semua data.
9. Manajemen Kinerja menyediakan mekanisme timbal balik (feedback) yang mencakup keseluruhan hirarki manajemen. Para karyawan dan pemimpin saling memberi feedback satu sama lain, sehingga tercipta kinerja yang sukses.
10. Manajemen Kinerja dimiliki oleh setiap manajemen dan bukan hanya oleh departemen sumber daya manusia saja. Pendekatannya terintergrasi, yang menyeimbangkan keahlian dan perilaku dari karyawan, dengan kerangka prosedural organisasi, untuk merefleksikan budaya organisasi. Sehingga di setiap lini organisasi para karyawannya dapat merefleksikan budaya organisasi (keahlian dan perilaku) yang telah ditetapkan oleh organisasi tersebut.
Senin, November 19, 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar